081285297877
Sukawana Asri M12B Curug Kota Serang Banten
Get In Contact
MERAWAT JIWA, MENATA LAKU: Akhlak dan Tasawuf dalam Wacana Interdisipliner
Home » Education  »  MERAWAT JIWA, MENATA LAKU: Akhlak dan Tasawuf dalam Wacana Interdisipliner
No Image Available

MERAWAT JIWA, MENATA LAKU: Akhlak dan Tasawuf dalam Wacana Interdisipliner

 Author: Dr. Ade Fakih Kurniawan  Category: Agama, Buku Pelajaran  Publisher: Algoria Global Indonesia  Published: October 27, 2026  ISBN: xxxxxxxx  Pages: 292  Country: Indonesia  Language: Indonesia More Details
 Description:
Merawat jiwa berarti mengakui bahwa kehidupan manusia memiliki dimensi batin yang tidak dapat direduksi menjadi perilaku lahiriah. Menata laku berarti mengingatkan bahwa kehidupan batin yang baik tidak berhenti pada pengalaman subjektif, tetapi seharusnya menemukan bentuknya dalam tindakan, kebiasaan, relasi, dan tanggung jawab sosial. Jiwa dan laku, dengan demikian, bukan dua wilayah yang terpisah. Apa yang terjadi di dalam diri memiliki konsekuensi pada cara seseorang memperlakukan dunia di luar dirinya; sebaliknya, lingkungan, relasi, dan kebiasaan sehari-hari turut membentuk kehidupan batin seseorang. Kesadaran semacam ini terasa semakin penting ketika “jiwa” kembali menjadi pembicaraan publik. Kesehatan mental, krisis makna, kecemasan, kesepian, burnout, kebutuhan akan ketenangan, pencarian spiritualitas, dan berbagai bentuk kegelisahan batin bukan lagi persoalan yang hanya dibicarakan dalam ruang-ruang keagamaan atau klinis. Ia hadir di kampus, keluarga, media sosial, tempat kerja, komunitas keagamaan, dan percakapan sehari-hari. Buku ini sendiri kemudian membawa persoalan tersebut ke dalam pembahasan tentang tasawuf dan kesehatan mental, dengan kehati-hatian untuk tidak menjadikan tasawuf sebagai pengganti psikologi klinis atau layanan kesehatan jiwa. Pada saat yang sama, kebangkitan kembali bahasa spiritual tidak selalu berarti kematangan spiritual. Spiritualitas dapat menjadi ruang pencarian makna, tetapi juga dapat dikomodifikasi. Ia dapat membantu seseorang menghadapi kehidupan, tetapi juga dapat digunakan untuk melarikan diri dari persoalan yang sebenarnya perlu dihadapi. Karena itu, buku ini tidak ingin sekadar mempromosikan tasawuf. Ia juga mengajak pembaca melihat kritik terhadap tasawuf, persoalan otoritas, gender, klaim pengalaman spiritual, komodifikasi spiritualitas, hingga hubungan tasawuf dengan moderasi beragama dan kehidupan masyarakat urban. Struktur bagian kontemporer buku memang sengaja membawa pembaca ke wilayah-wilayah tersebut. Lalu, apa yang ditawarkan buku ini di tengah banyaknya buku ajar akhlak dan tasawuf yang telah tersedia? Jawabannya bukan bahwa buku ini menawarkan materi yang sama sekali belum pernah dibahas. Sebagian besar tema di dalamnya tentu telah menjadi bagian dari khazanah klasik maupun kajian akademik modern. Yang hendak ditawarkan buku ini adalah cara mempertemukan berbagai wilayah pengetahuan tersebut dalam satu perjalanan pembelajaran.
 Back